Site icon Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah

Tragedi Hilangnya Perpustakaan Alexandria di Mesir

Buku adalah jendela ilmu pengetahuan. Namun bagaimana dengan perpustakaan yang menyimpan banyak sekali koleksi buku? Maka bisa kita sebut perpustakaan adalah gudangnya jendela ilmu pengetahuan. Dalam kesempatan kali ini, kita akan melakukan rihlah ke sebuah perpustakaan besar yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia.

Namanya adalah Perpustakaan Alexandria di Mesir, perpustakaan ini merupakan perpustakaan besar yang memuat banyak sekali gulungan papirus. Pada masa itu kertas belum ditemukan, sehingga papirus digunakan untuk menulis berbagai informasi dan ilmu pengetahuan. Papirus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Ada sekitar 500.000-700.000 gulungan papirus yang tersimpan di dalamnya.

Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion. Gagasan mengenai sebuah perpustakaan untuk segala bidang di Aleksandria mungkin diusulkan oleh Demetrios dari Faleron (seorang negarawan asal Athena yang menjalani pengasingannya di Aleksandria) kepada Raja Ptolemaios I Soter pada zaman Helenistik. Rancangan untuk mendirikan perpustakaan ini mungkin sudah disusun pada masa raja tersebut, tetapi perpustakaan ini kemungkinan baru dibangun pada masa pemerintahan anaknya, yaitu Ptolemaios II Filadelfos. Berkat dukungan dari raja-raja Wangsa Ptolemaios, perpustakaan ini dengan segera memperoleh banyak sekali gulungan papirus.

Namun, Perpustakaan Alexandria pernah musnah terbakar. Kaum Muslim di bawah pimpinan Amr bin Ash yang masuk ke Mesir dituduh sebagai pelaku pembakaran tersebut. Namun hal ini dibantah oleh Le Fort saat melakukan ceramahnya di Paris pada abad ke-19, Le Fort bahkan menyebut pasukan Kristen Barat-lah yang menjadi penyebab hancurnya manuskrip-manuskrip tua itu. Namun satu hal yang pasti, saat pasukan Islam memasuki Alexandria, Perpustakaan Alexandria itu sudah lama musnah. ”Sungguh memalukan, dosa yang dibuat sendiri oleh dunia Barat hendak dikambinghitamkan kepada orang-orang Arab,” ujar sejarawan Edward Gibbon (1737-1794)

Edward Gibbon juga membantah tuduhan itu sebagai “tipu-tipu murahan gaya Perang Salib”. Dalam Decline Fall of the Roman Empire Ed. IX (Jatuhnya Kekaisaran Romawi Jilid ke-9), Gibbon menyebut isu pembakaran jutaan manuskrip tua Perpustakaan Alexandria itu tak lebih sebagai strategi politik kubu Kristen Barat untuk menjelek-jelekan kubu Arab Islam.

Setelah dibangun kembali pada era Kaisar Marcus Antonius (83-30 SM), Perpustakaan Alexandria lagi-lagi terbakar pada tahun 263 M. Pada tahun 1995 gedung perpustakaan raksasa ini kembali dibangun dengan biaya mencapai 220 juta USD. Namanya berganti menjadi New Library Of Alexandria, sering juga disebut New Bibliotheca Alexandrina. Tambahan kata ‘New’ di depan namanya karena gedung perpustakaan ini relatif baru dengan gedung yang sangat modern dan baru akhirnya resmi dibuka pada tahun 2002.

Seru sekali kan rihlah kita kali ini mengenal salah satu perpustakaan besar di dunia. Semoga kelak Allah Swt beri kesempatan pada kita untuk bisa mengunjunginya secara langsung.