Site icon Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah

Peran Sains dalam Menunjang Peradaban

Ayah dan Bunda, ada sebuah anggapan yang sering kita dengar di mtengah-tengah kita “kalau belajar dengan kurikulum berbasis Islam dan menghafal Al Qur’an pasti akan menomorduakan pelajaran lainnya seperti sains, matematika dan lainnya! Namun benarkah demikian? Apakah Islam mencontohkan hal serupa?

Ayah dan Bunda, anggapan tersebut jelas keliru. Faktanya ilmu pengetahuan dan sains dalam peradaban Islam berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah. Pada saat itu peradaban Islam menjadi kiblat dunia, hal ini disebabkan karena perhatiannya yang sangat besar terhadap syariat Islama dan juga ilmu pengetahuan serta sains.

Puncaknya terjadi pada saat pemerintahan Harun Al-Rasyid (786-809 M), dan putranya Al-Makmun (813-833 M). Saat itu kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, sains, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, kebudayaan, dan lainnya mengalami zaman keemasan dan kemajuannya. Pada masa keemasan peradaban Islam saat itu, banyak muncul ilmuwan-ilmuwan muslim multitalenta. Di antara mereka antara lain Al-Kindi, Al-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Al-Ghazali dan masih banyak lagi sederet ilmuwan muslim yang mempunyai kontribusi terhadap sains, ilmu pengetahuan dan mewarnai peradaban dunia.

Perkembangan sains yang begitu pesat pada masa Abbasiyah tidak lepas dari peran pemimpinnya yang sangat mencintai ilmu. Sehingga pemerintah selalu mendukung berbagai gagasan yang muncul dari tokoh-tokoh Islam pada waktu itu. Selain itu, para pemimpin pada waktu itu, juga membangun infrastruktur untuk mendukung berkembangnya dunia sains dalam Islam. Pada saat itu peradaban Islam menempatkan dirinya sebagai sebuah pemerintahan terkuat yang tidak tertandingi.

Bukti pemerintahan di masa Abbasiyah mendukung perkembangan sains dan ilmu pengetahuan adalah dengan membangun infrastruktur lewat didirikannya perpustakaan. Dukungan ini menjadikan perpustakaan ini sebagai pusat menelaah, referensi ilmu pengetahuan serta pusat diskusi ilmu pengetahuan. Perpustakaan tersebut diberi nama Baitul Hikmah.

Di Khoiru Ummah sains bukan hanya dipelajari sebatas teori. Namun lewat kurikulum berbasis Islam dengan metode talaqiyyan fikriyyan, mempelajari sains menjadi bukti Maha Besarnya Allah Sang Pencipta. Dengan mempelajari sains, ananda semakin kagum terhadap segala keteraturan dan kehebatan setiap hal yang ada di alam semesta. Praktik sains dan berbagai percoabaanya turut dilakukan dalam sesi ekskul. Maasya Allah.

Oleh karena itu, jangan ragu untuk menyekolahkan ananda di Khoiru Ummah.