Motivasi Parenting

Ayah dan Bunda, Maasya Allah luar biasa jika kita tadabburi QS an Nisa ayat 9. Di dalam ayat tersebut ada pesan yang sangat penting untuk kita agar peduli dengan generasi ini. Amanah kita sebagai orang tua adalah menyiapkan generasi agar mereka siap menerima estafet perjuangan membangun peradaban. Kita diperingatkan dalam ayat tersebut, agar jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita.
Termasuk siapa yang mereka kenal dan jadikan sebagai idola hari ini. Patutlah kita khawatir jika anak-anak kita lebih kenal dengan idola kekinian dibanding tokoh-tokoh Islam, sahabat hingga Rasulullah Saw. Lalu apa aktivitas yang sering dilakukan anak-anak kita saat ini? Apakah asyik dengan gawai, eksis di sosial media, hura-hura atau asyik dengan Al Qur’an dan ilmu-ilmu Islam? Ini pun harus kita renungkan.
Ayah dan Bunda, mengapa generasi saat ini latah terhadap hal-hal viral? Menurut Dr. H. Agus M Handaka, M.T (Ketua Divisi Standarisasi Khoiru Ummah), lahirnya generasi latah (yang berkonotasi negatif dan membawa kemaksiatan) saat ini berakar dari minimnya pendidikan Tsaqofah Islam pada kurikulum pendidikan umum di negeri ini, dan kurangnya teladan yang baik dari para pendidiknya. Sehingga akhirnya menghasilkan generasi dengan taraf berpikir yang rendah dan rapuh.
Ayah dan Bunda selain generasi latah rupanya tantangan kita masih banyak, antara lain: generasi yang galau, sibuk dengan laghwun, minimnya pemahaman Islam, daya juang dan pergerakan yang lemah serta taraf berfikirnya yang rendah. Sehingga dari hal tersebut lahir beberapa tipe generasi muda saat ini, seperti: perilaku kriminal, maksiat, sibuk dal seni atau olahraga tapi dangkal dalam pemahaman Islam, sibuk dalam saintek tapi abai dengan Islam. Di sisi lain ada juga yang kaya pengetahuan tsaqofah Islamnya namun tidak ideologis dan lemah pemikirannya.
Meskipun tantangan semakin berat, namun kita tidak boleh diam dan menyerah dengan keadaan. Kita harus bergerak dan berjuang untuk menyelamatkan generasi muda sekarang juga. Sebelum kita kehilangan mereka di dunia dan mereka menuntut kita di akhirat. Bukan fisik mereka yang hilang, karena disiknya tetap ada namun hanya menjadi beban bukan qurrata’ayun bagi kedua orang tuanya. Kita tentu tidak ingin dan takut jika kelak di yaumil akhir mereka menuntut kita karena lalai dalam mendidik mereka. Naudzubillahi min dzaalik.
Patut kita renungkan bersama bahwa mendidik anak sifatnya irreversible alias tidak bisa diulang. Maka mari ingat kembali peran kita sebagai orang tua, antara lain: menjadi teladan bagi anak-anak kita, memilihkan guru dan sekolah terbaik, dan tiada henti mendoakan mereka. Satu poin yang penting adalah memilih sekolah terbaik mengingat waktu anak-anak kita sebagian besar diisi dengan kegiatan belajar. Pilihlah sekolah terbaik yang bisa menguatkan kepribadian dan tsaqofah Islamnya serta menguatkan kepemimpinan dan sainstek.
Dalam hal ini Khoiru Ummah sebagai lembaga pendidikan siap mendampingi Ayah dan Bunda dalam mendidik generasi. Saat ini Khoiru Ummah sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan berbagai jenjang dari SD hingga SMA. Insya Allah, Khoiru Ummah bisa menjadi pilihan terbaik agar generasi masa depan ini terhindar dari budaya latah.