Meraih Ampunan di Bulan Suci Ramadhan

Ananda shalih dan shalihah, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Dari hadis tersebut disebutkan bahwa orang yang beriman dan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tentu sangat menanti-nanti hadirnya di bulan Ramadhan. Selain karena bulan tersebut merupakan bulan yang dimuliakan dengan turunnya Al Qur’an, di bulan tersebut Allah menjanjikan ampunan bagi orang yang menunaikan kewajiban menjalankan ibadah puasa.

Ampunan yang dijanjikan Allah Swt atas orang yang berpuasa diberikan dengan dua syarat, yaitu “imanan” dan “ihtisaban”.

Al Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits tersebut menyebut bahwa yang dimaksud “imanan” yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

Seorang muslim memang hendaknya menjalankan ibadah puasanya atas dasar keimanan, bukan yang lain. Hal ini dapat dipahami dalam dua hal, antara lain:
Pertama, keimanan kepada aqidah Islam memberi konsekuensi ketaatan kepada seluruh syariat yang dibebankan kepada mukallaf yang termaktub dalam Al Qur’an dan as Sunnah. Kedua, puasa diwajibkan berdasarkan dalil yang disebutkn di dalam QS Al Baqarah ayat 183

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Maka ananda shalih dan shalihah, saat seorang muslim menjalankan puasa harus didasari keimanan akan kebenaran Al Qur’an dan keimanan atas status wajibnya perintah berpuasa dalam ayat di atas.

Dengan menjadikan keimanan sebagai motivasi satu-satunya dalam berpuasa, seorang muslim akan memiliki kekuatan untuk menahan diri dari makan dan minum selama seharian. Hal itu karena ia sadar bahwa berpuasa merupakan sarana mendekatkan dirinya kepada Allah ta’ala.

Keimanan juga menumbuhkan sikap muraqabah, yakni perasaan senantiasa dilihat oleh Allah ta’ala sehingga menguatkan kesabarannya untuk meninggalkan keinginan dan syahwat demi Rabb-Nya. Sebab tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya sedang berpuasa kecuali dirinya dan Allah semata. Inilah salah satu makna dari hadits qudsi berikut,
الصيام لي و أنا أجزي به
Puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku-lah yang akan membalasnya. (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas sekaligus juga berkaitan dengan syarat kedua untuk mendapatkan ampunan Allah, yaitu “ihtisab” atau mengharap hanya pahala dari Allah ta’ala semata. Para ulama menjelaskan bahwa betapa Allah mengistimewakan ibadah puasa ini sampai-sampai dikatakan, “Akulah yang akan membalasnya.” Maknanya, besarnya balasan untuk ibadah puasa hanya Allah yang tahu. Ibadah lainnya Allah balas dengan ganjaran 10 sampai 700 kali lipat. Adapun puasa, Allah akan membalasnya tanpa hitungan bilangan tertentu, yang berarti bisa berkali-kali lepat lebih besar daripada ibadah lainnya.

Karena itu, balasan dari siapa lagi yang kita harapkan selain dari sisi Allah Swt? Inilah mengapa, dengan ciri khas dan keistimewaan ibadah puasa, dan besarnya pahala puasa, para ulama menyatakan bahwa puasa adalah ibadah yang paling jauh dari riya. Namun demikian, hal itu hanya akan terjadi jika kita senantiasa mengikhlaskan puasa hanya untuk-Nya dan berharap ganjaran hanya dari-Nya.

Semoga dengan seperti itu, kita termasuk golongan orang-orang yang dijanjikan dua kebahagiaan sebagaimana dalam lanjutan hadits qudsi di atas,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)