Menyikapi Trend Individualis Pada Anak Masa Kini

Pernahkah Ayah dan Bunda mendengar ujaran seperti ini;
“Biar ajalah dia begitu, yang penting bukan kita!” Atau “Jangan ikut campur urusan orang lain, toh dia nggak merugikan siapapun!” ?

Pasti Ayah dan Bunda pernah mendengarnya atau yang semisal dengannya. Hal ini menjadi lumrah ketika kita hidup di zaman serba canggih yang memudahkan kita untuk melakukan segala sesuatunya sendiri dalam genggaman jari. Namun efek samping dari itu semua ternyata merubah gaya hidup dan cara kita berinteraksi dengan orang lain hingga membentuk kita menjadi individualis.

Apa itu individualis?
Sikap individualis merupakan paham yang menganggap diri sendiri (kepribadian) lebih penting dibandingkan dengan orang lain. Mereka yang bersikap individualis cenderung mementingkan dirinya sendiri, tidak mempedulikan orang lain dan hanya peduli terhadap urusannya masing-masing. Masyarakat Indonesia yang memegang adat ketimuran, dulu penduduknya ramah, sopan, senang membantu, peduli sesama bahkan giat gotong royong. Akan tetapi saat ini jarang sekali kita temui hal yang demikian dan hanya segelintir orang saja yang bersikap demikian. Hal ini terjadi karena masyarakat Indonesia saat ini mulai bersikap atau berprilaku individualis.

Tentu kita tidak ingin generasi di bawah kita tumbuh menjadi orang yang cuek dan individualis karena faktanya bertentangan dengan fitrah penciptaan kita sebagai manusia. Rasulullah Saw bahkan mengingatkan kita dalam sebuah hadis tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan bukan individualis,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendzaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu Ayah dan Bunda, membangun kesadaran pentingnya persaudaraan (ukhuwah) antara sesama Muslim patut kita bangun dalam diri anak-anak. Agar kelak tumbuh dalam diri generasi terbaik penerus peradaban Islam ini jiwa yang peduli dengan sesamanya bukan hanya mementingkan dirinya semata.