Mengenal Pembiasaan Berpikir Benar di Khoiru Ummah

Ayah dan Bunda mungkin bertanya-tanya mengapa berpikir benar menjadi salah satu tahapan pencerdasan akal di Khoiru Ummah?
Alasannya antara lain karena berpikir merupakan komponen penting yang ada dalam diri setiap manusia. Berpikir bukan sembarang komponen, namun kemampuan ini merupakan nikmat dan anugerah terbesar yang dimiliki oleh manusia dan membedakannya dengan makhluk lainnya.
Ayah dan Bunda, proses berpikir benar baru bisa dilakukan jika melibatkan empat komponen berpikir, antara lain:
1. Adanya suatu realitas atau objek,
2. Terjadi penginderaan oleh indera yang sehat,
3. Terdapat otak yang sehat,
4. Terdapat informasi sebelumnya yang berkaitan dengan realitas atau objek tersebut
Oleh karena itu proses berpikir bukan hanya sekedar asal berpikir, namun harus benar. Hal ini jelas baru akan tercapai jika ada standar hakiki yang menjadi landasannya yaitu Al Quran.
Jika proses berpikirnya dibimbing oleh wahyu Allah Swt ini, maka akan mengantarkan manusia pada jalan yang lurus. Sebaliknya, jika tidak berlandaskan pada Al Qur’an dan hanya mengikuti akal atu hawa nafsunya saja maka akan tercipta kekacauan dalam dirinya. Sebagaimana perkataan Ibnu ‘Aun rahimahullah berikut ini:
إذا غلب الهوى على القلب، استحسن الرجل ما كان يستقبحه.
“Jika hawa nafsu telah menguasai hati, maka seseorang akan menganggap baik sesuatu yang sebelumnya dia anggap buruk.”
[Sumber: Al-Ibanah ash-Shugra, hlm. 231]
Alhamdulillah, di Khoiru Ummah anak-anak dilatih untuk mengindera fakta dengan panca indera yang mereka miliki, kemudian diselaraskan dengan maklumat yang mereka miliki atau yang telah diberikan guru yang tentunya berlandaskan pada Al Qur’an. Sehingga menghasilkan kesimpulan dari dirinya sendiri yang hasil akhirnya adalah ketaatan dan penghambaannya secara totalitas terhadap penciptanya yaitu Allah Swt