Mengenal Pejuang Heroik dari Banten, Sultan Ageng Tirtayasa

Ananda shalih dan shalihah, pernahkah antum mendengar kisah heroik seorang Sultan dari ujung barat Pulau Jawa? Seorang Sultan yang tegas berani menolak dan melawan kepentingan VOC. Dia adalah Sultan Ageng Tirtayasa.

Ananda shalih dan shalihah, Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (Sultan Banten ke-5) dan Ratu Martakusuma yang lahir pada tahun 1631. Kesultanan Banten sendiri merupakan kesultanan Islam yang berdiri di tanah Sunda, tepatnya pada abad ke-16. Pendiri Kesultanan Banten adalah Sultan Maulana Hasanuddin yang merupakan putra Syaikh Maulana Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Maasya Allah, keturunan Wali Songo rupanya.

Pada masa itu Kesultanan Banten menjadi salah satu kesultanan yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam dan perdagangan rempah di Pulau Jawa. Selain itu Banten juga memiliki lokasi strategis sebagai pusat perdagangan internasional. Banten terletak pada wilayah strategis yang menghubungkan pulau Jawa dan jalur perdagangan Asia yang sangat menunjang perdagangan dunia.

Pesatnya kemajuan bidang perdagangan melalui jalur laut berhasil membuat Kesultanan Banten dikenal oleh para pedagang di Nusantara. Bahkan Kesultanan Banten mengungguli Makassar dan Aceh sebagai pusat perdagangan lada terbesar di Nusantara. Pamornya sampai terdengar oleh para pedagang Persia, India, Arab, Portugis, hingga Tiongkok. Oleh karena itu VOC (kongsi dagang Hindia Belanda) yang berkedudukan di Batavia merasa terancam dan menilai Banten bisa mengganggu kepentingan monopoli ekonominya.

Politik pemerintahan yang diterapkan Sultan Ageng Tirtayasa berhasil membuat VOC kesulitan menerapkan praktik monopoli dagang. VOC belum menyerah, ditawarilah Sultan Ageng membuat perjanjian agar kepentingan VOC tetap terjaga. Namun pada tahun 1655, Sultan Ageng Tirtayasa dengan tegas menolak membuat perjanjian dengan VOC yang ingin mempertahankan status Banten sebagai pelabuhan terbuka. VOC akhirnya melakukan blokade terhadap jalur perdagangan Banten, namun Sultan Ageng Tirtayasa tidak tinggal diam. Sultan Ageng bangkit melakukan perlawanan.

VOC terus melakukan tipu daya termasuk dengan cara liciknya yang menggunakan taktik Devide et Impera atau dikenal sebagai politik adu domba. Strategi ini dilancarkan setelah VOC mendapatkan celah melalui Sultan Haji yang merupakan putra mahkotanya. VOC menghasut Sultan Haji untuk merebut takhta ayahnya sendiri. Sultan Haji dihasut dengan kekhawatiran tidak akan mendapatkan tahta warisan sang ayah. Hingga akhirnya Sultan Haji berbuat nekat dengan membuat perjanjian bersama VOC untuk menyingkirkan Sultan Ageng. Akhirnya pada tahun 1683, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap VOC dengan menggunakan tipu muslihat. Sultan Ageng kemudian dipenjara di Batavia sampai tutup usia pada tahun 1692.

Meski berakhir dengan pengkhianatan keluarganya dan berakhir di penjara, namun sungguh luar biasa kisah perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa ini. Sedikitpun tak pernah gentar dan tak mudah terbujuk oleh rayuan musuh dalam mempertahankan amanahnya memimpin Kesultanan Banten. Ananda shalih dan shalihah, semoga kisah keteladanan Sultan Ageng Tirtayasa ini bisa menjadi teladan bagi kita generasi khoiru ummah pemimpin masa depan.