
Ayah dan Bunda, Rose Mini (seorang psikolog anak) menyatakan bahwa kecerdasan anak dipengaruhi oleh dua faktor yaitu nature (genetik) dan nurture (stimulasi). Dari hal ini dapat dipahami bahwa stimulasi memiliki peran penting dalam menentukan kecerdasan pada anak. Stimulasi sangat penting karena perkembangan otak merupakan hal yang dapat menentukan kecerdasannya. Tahukah Ayah dan Bunda, Al-Qur’an memiliki peran yang amat penting dalam proses pencerdasan akal pada anak. Seperti apa caranya? Mari kita simak!
Kata akal berasal dari bahasa Arab yaitu al-‘aql, berasal dari kata kata ‘aqala – ya’qilu – ‘aqalan, yang bermakna fahima wa tadabbara atau faham/memahami dan menghayati/merenungkan dengan dalam. Akal menjadikan manusia berbeda dengan hewan karena akal bukan otan melainkan kemampuan untuk berpikir, mengindera, memahami, membedakan, merenungkan dengan dalam.
Dalam QS al Isra ayat 70, Allah ta’ala berfirman;
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
Tidak sedikit ayat-ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan dorongan kepada manusia agar menggunakan akalnya. Allah SWT mendorong manusia menggunakan akalnya untuk berpikir. Salah satunya adalah surat An-Nahl ayat 12 yang artinya,
“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. An-Nahl ayat 12).
Agar akal dapat memiliki fungsi yang maksimal maka diperlukan panduan, tak lain adalah Al Qur’an dan as-Sunnah. Tanpa keduanya, akal tidak akan berfungsi dengan baik sesuai misi penciptaan manusia.
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan,
“Akal tidaklah bisa berdiri sendiri, akal baru bisa berfungsi jika dia memiliki naluri dan kekuatan sebagaimana mata bisa berfungsi jika ada cahaya. Apabila akal mendapatkan cahaya iman dan Al-Qur’an barulah akal bisa seperti mata yang mendapatkan cahaya matahari. Jika tanpa cahaya tersebut, akal tidak akan bisa melihat atau mengetahui sesuatu.” (Majmu’ Fatwa, Ibnu Taimiyah)
Karena itu Ayah dan Bunda, kecerdasan akal pada anak bisa semakin melejit dengan peran Al-Qur’an lewat proses tahfidz (menghafal), ta’lim (belajar) dan tadabbur (merenungkan dan memerhatikan). Karena itu Khoiru Ummah hadir sebagai representasi sekolah kurikulum berbasis akidah Islam yang menjadikan Al Qur’an sebagai sumber ilmu sekaligus landasan dalam mencerdaskan akal dan mensholihkan jiwa anak.