
Gawat nih.. gawat!
Ada sebuah fakta memilukan terjadi di negeri ini, yaitu minat baca yang masih sangat rendah. Dimana rata-ratanya hanya sekitar 18.000 judul buku yang dibaca per tahun. Bahkan lewat penelitian yang dilakukan oleh UNESCO pada tahun 2016 lewat hasil studi berjudul “The World’s Most Literate Nations” menyebutkan, tingkat literasi Indonesia ada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Bahkan pada tahun 2019 berdasarkan survei PISA yang dirilis OECD, tingkat literasi Indonesia ada di peringkat 10 terbawah dari 70 negara. (Kompas TV, Mei 2021)
Rendahnya budaya literasi di Indonesia ini bukan hal sepele namun perlu disikapi dengan sangat serius. Apalagi membaca adalah aktivitas penting untuk membuka cakrawala dunia. Membaca sangat bermanfaat membantu kita untuk mengulang (murajaah) dan menambah (ziyadah) ilmu. Sebagai contoh, kita bisa belajar dari kebiasaan dan kemampuan baca para ulama yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah al Hafiz Ibnu Hajar al Asqalani (852 H), yang digelari Amirul Mukminin fil Hadis pada zamannya.
Ibnu Hajar al Asqalani membaca Shahih Al Bukhari dalam 10 pertemuan (al-Jawahir wa ad-Durar, 1/104), membaca Shahih Muslim dalam 5 pertemuan (al-Majma’ al-Mu’assis, 2/478), membaca Sunan an-Nasa’i dalam 10 pertemuan (al-Jawahir, 1/104), membaca Sunan Ibnu Majah dalam 4 pertemuan (al-Jawahir, 1/103), membaca Mu’jam al-Shaghir at-Thabarani dalam 1 pertemuan (al-Majma’ al-Mu’assis, 2/234), membaca 1000 juz kitab hadits dan menulis 10 jilid dalam 100 hari (Unwan az-Zaman, 20), dll. Maasya Allah!
Lalu apakah kita bisa seperti al Hafiz Ibnu Hajar al Asqalani? Tentu saja bisa! Dengan memulainya saat ini, tanpa nanti dan tanpa tapi. Bayangkan luasnya cakrawala ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan lewat membaca buku, sebuah hal yang tidak bisa kita dapatkan hanya sekedar berselancar di mesin pencari.
Yuk Ayah dan Bunda, kita bangun suasana yang menyenangkan untuk membaca. Agar anak-anak senang membaca dan semakin banyak pengetahuan yang bisa didapatkan darinya.