kisah IQC dari Pangkal Pinang

kisah IQC dari Pangkal Pinang

Kafilah KU Pangkalpinang Terlambat 16 Jam

Sekitar pukul 13.25 Wib kapal melambat, terdengar membentur benda keras. Dan akhirnya berhenti melaju.

Baru saja kami mengatasi kebosanan dengan harapan akan segera sampai Pelabuhan Pangkal Balam menjelang magrib atau selepas magrib kandas sudah.

Nahkoda Kapal Star Belitung memutuskan membuang jangkar sekitar dua atau tiga jam perjalanan ke Pangkal Balam.

Kapal bermuatan utama sekitar 38 buah truk ini sebelumnya dari Pelabuhan Tanjung Priok dijadwalkan berangkat Sabtu/02/11/2019 pukul 14.00 Wib. Kenyataannya baru angkat jangkar pukul 19.24 Wib.

Ada beragam alasan yang berdedar mulai dari menunggu muatan penuh sampai kepada lambatnya menunggu izin dati otoritas pelabuhan.

“Biasalah kalau hari libur kapal seting terlambat. Soalnya pegawai kan libur, jadi sangat tergantung dengan mereka, “kata salah seseorang yang duduk disamping saya di dek kapal.

Memang menjelang magrib satu unit truk dobel kabin. Berhenti dermaga tepat di samping kapal. Tiga orang berseragam kementerian turun. Dua laki-laki, seorang perempuan yang langsung mengambil gambar menggunakan androidnya.

Dua orang lainnya nerbincang dengan pengurus kapal, lalu memeriksa kapal. Sekitar sepuluh menit kemudian mereka naik kapal diikuti rombongan pengurus kapal yang sejak siang menunggu.

Saya tidak ikut naik, meski diperintah salah seorang naik. Saya memilih mengobrol dengan penjual kopi sembari menghabiskan sisa kopi saya.

Tak lama berselang, terdengar suara orang berbicara melalui pengeras suara kapal. Tak jelas apa yang diomongkan. Cukup lama tiga orang tadi di atas kapal.

Sekitar setengah jama ketiganya turun, kapal pun angkat jangkar.

“Wah terlambat berangkat kapal ini. Bisa-bisa jadwal tiba molor karena takut kapal kandas,” seperti dia ingin saya mendengarnya. Saya hanya diam saja.

***——***
“Nakhoda sengaja membuang sauh, parkir di daerah Beriga ini. Perairan di sini gak ada masalah, cuma memang pilihan tepat menurut kapten parkir disini, ” kata Bambang supir truk yang baru saja saya kenal ketika tadi kami salat Dzuhur berjamaah di Musala Al-Amin, Star Belitung.

Sebab, dia melanjutkan, kalau dipaksakan jalan, kapal tetap tidak bisa masuk pelabuhan Pangkal Balam. Bahkan kapal bisa kandas dan bisa robek kena batu karang.

“Itu berbahaya dan kalau sudah robek kapal harus masuk dok. Dan kalau sudah begitu perusahaan akan menyalahkan kapten. ”

Kalau parkir di sini kan aman dan bisa mancing. Toh kalau dipaksakan jalan paling pilihannya parkir di daerah Pasir Padi. “Tetap tidak bisa ngapain juga, ” katanya.

Pelabuhan Pangkalbalam sangat tergantung dengan jadwal air pasang. Jadwal air pasang besok pagi.

“Jadi jadwal kapal bisa masuk Pangkal Balam besok pagi. Maka, sekitar dya jam atau tiga jam sebelum Subuh maka, kapal ini akan berangkat menuju Pangkal Balam, ” kata Bambang.

Kata kuncinya adalah Air Pasang besok pagi. Berangkat sekarang atau besok tetap hatus menunggu jadwal air pasang besok pagi.

Pelabuhan Pangkalbalam sebenarnya sudah tidak cocok lagi dijadikan pelabuhan utama. Selain panjang dermaganya juga pendek sehingga tidak memungkinkan kapal bersandar lama.
Apalagi jika banyak kapal yang harus sandar maka bisa berhari-hari antri.

Pangkal Balam adalah pelabuhan yang sangat bergantung dengan air pasang.
Jika kapal terlambat merapat maka bongkar muat barang pun akan terlambat. Apalagi sebagian besar truk mengangkut sembako atau barang kebutuhan lainmya seperti cabai, bawangdrah, tomat dan sayuran jenis lainnya.
Maka, akan cepat busuk, selain akan langka di pasaran sehingga menyebabkan harga melambung tinggi.

Maka sudah saatnya pemerintah serius untuk membangun pelabuhan alam yang baru. Pelabuhan yang menjadi jantungnya perekonomian Pulau Bangka. Kapal bisa bersandar dan angkat jangkar kapan saja mau.
Bisa merapat kapan saja tanpa harus berhari-hari antri. Barang dari Bangka dan yang akan masuk Bangka tidak akan terkendala lagi. Harga pun bisa normal kembali. Indonesia adalah negara maritim, sudah selayaknya infrastruktur seperti pelabuhan benar-benar memadai.
Pelayanan administrasi otoritas pelabuhan juga harus cepat, transparan dan ramah.

***—***

Tim Kafilah Khoiru Ummah Pangkalpinang hatus bersabar untuk bisa bertemu kembali Ayah dan Bunda. Harus bersabar menikmati menu masakan bunda. Mandi dengan air yang jernih.

Sebagian para supir truk mulai mengeluarkan pancing masing-masing. Siswa KU yang baru pulang ikut Indonesia Qur’an Camp (IQC) tampak mulai mengikuti para pemancing dadakan itu.

Mereka tampak lincah mengumpulkan ikan-ikan hasil pancingan. Barangkali inilah salah satu hiburan atau cara menghibur diri karena harus bersabar terlambat sekitar 16 jam menginjakkan kaki di dermaga.

Saya teringat dan membayangkan kembali Film Cast Away yang dibintangi Tom Hanks, Paul Sanchez, Helen Hunt dan Lari White. Dengan sutradara tangan dingin Robert Zemeckis, film ini membawa pengemarnya pada setting Asia yang ‘hijau dan subur’ sebagai bagian petualangan untuk dapat kembali ke New York.

Kisah berawal dari Chuck Noland yang diperankan Tom Hanks adalah seorang eksekutif muda di perusahaan jasa raksasa Federal Express (FedEx).

Chuck melakukan perjalanannya meninjau cabang FedEx di Malaysia. Sayang ia tidak berhasil kembali lagi ke New York. Pesawatnya mengalami kecelakaan, dan hanya ia sendiri yang selamat.

Chuck terdampar di sebuah pulau terpencil tanpa setitik harapan untuk dapat kembali lagi. Dengan kalender yang dibuatnya sendiri, Chuck dapat mengira-ngira berapa banyak waktu yang sudah berjalan. Setelah empat tahun terdampar, Chuck kini mahir menangkap ikan dengan kayu tajam, membuat api secara tradisional, dan terbiasa hidup dalam kesendirian.

Tapi dengan menempuh resiko, Chuck berniat untuk kembali ke New York. Ia membuat sebuah rakit dari kayu dan dengan bantuan angin, rakit tersebut berayun dan membawanya kembali ke peradaban manusia. Namun semua rencananya teryata jauh dari kemungkinan.

Jadwal tiba harusnya Sabtu/03/11/2019, sekitar pukul 15.00 Wib, menjadi Senin/04/11/2019 sekitar pukul 07.00 Wib. Kami hanya terlambat 16 jam.

InsyaAllah makan malam sedang disiapkan koki kapal. Aromanya menembus daun pintu musala Al-Amin yang bersebelahan dengan dapur, bau sesuatu yang lezat sedang digoreng….(Fakhruddin Halim)