Ketika Cahaya Islam Menerangi Kegelapan Jazirah Arab

Ananda shalih dan shalihah, mari kita jelajahi peninggalan besar yang telah ditorehkan Islam dalam peradaban di jazirah Arab.

Ketika cahaya nubuwwah belum menyala di kawasan yang bukan hanya tandus dari segi alam dan iklim, namun juga tandus dari segi moral dan keimanan. Masyarakatnya tenggelam dalam kebejatan moral dan kesyirikan akut. Memang, nilai-nilai keberanian, kekeluargaan, dan kesetiaan itu masih ada di sana. Namun semua itu masih dibalut oleh fanatisme kabilah, sikap merendahkan wanita dan budak, kecurangan dalam perdagangan dan lainnya.

Ajaran Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as yang dijejakkan di lembah Makkah ribuan tahun lalu telah disimpangkan. Kini mereka bertawaf di sekeliling Ka’bah dengan tanpa sehelai busana. Bahkan di sudut-sudut rumah Allah yang mulia itu berdiri patung-patung berhala sesembahan mereka.

Walau pekat kejahiliyahan itu, tidak semua larut dalam nista iblis tersebut. Sekelompok pemuda yang tergabung dalam kelompok hunafa (orang-orang yang lurus) menolak menyembah berhala. Juga ada seorang pemuda, saudagar biasa, bukan agamawan atau penyair yang panggilan akal sehatnya mengatakan bahwa kehidupan lembah Makkah itu adalah kehidupan yang tidak pantas untuk manusia.

Maka sang pemuda ini pun mulai ber-tahannuts di Gua Hira setidaknya satu bulan dalam satu tahun. Di sana ditemani gelap dan dinginnya malam ia menatap langit hitam tenggelam dalam tafakur. Hal ini dilakukan hingga 4-5 tahun berikutnya. Suatu malam, malaikat Jibril datang kepadanya memberikan wahyu pertama.

Pemuda itu bernama Muhammad. Ia sama sekali tidak memiliki cita-cita menjadi nabi. Namun panggilan nubuwah tidak bisa ditolak. Ia pun mulai menyampaikan pesan Allah untuk mentauhidkan-Nya, meninggalkan penyembahan pada berhala, berhenti membunuh anak wanita, berbuat curang dan menindas para budak, serta bersiap menghadapi kebangkitan setelah kematian.

Walaupun sepanjang 13 tahun dakwah Nabi Muhammad Saw menghadapi penolakan dari penduduk Makkah, namun akhirnya beliau dan pengikutnya yang sedikit berhasil memperoleh tempat di hati orang-orang Madinah.