Ada alasan mengapa para ulama selalu menekankan adab sebelum ilmu. Karena ilmu bukan sekadar informasi yang ditangkap oleh otak, tapi cahaya yang masuk ke dalam hati.
Imam Syafi’i pernah berkata kepada gurunya, Waki’ bin Jarrah:
“Aku mengadukan kepada guruku tentang buruknya hafalanku, lalu beliau menasihatiku: ‘Tinggalkan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.’”
Dalam ayat Al-Qur’an, Allah menggambarkan diri-Nya sebagai cahaya:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.”
(QS. An-Nur: 35)
Maka ketika kita menuntut ilmu, yang kita cari bukan hanya kepintaran. Tapi kita sedang memohon agar diberi cahaya:
Ilmu bukan hanya pelajaran di kelas, tapi cahaya kehidupan. Maka bersihkan hatimu, ikhlaskan niatmu, dan muliakan gurumu, karena hati yang bersih adalah tempat terbaik bagi cahaya ilmu untuk menetap.
