Idulfitri Tanpa Mudik, Tak Berkurang Makna

Idulfitri Tanpa Mudik, Tak Berkurang Makna

Khoiruummah.id – Waktu terus berlalu. Perjalanan waktu meninggalkan kenangan yang kadang tak terlupakan. Setiap kenangan, mengandung pelajaran kehidupan. Tak terasa, hari ini sudah tanggal 7 Syawwal. Biasanya, di sekitar tanggal tersebut, time line berita di media massa adalah terkait arus balik dan turunannya. Tidak demikian halnya dengan bulan Syawwal tahun ini. Berita yang muncul masih seputar covid – 19. Trending topiknya adalah tentang The New Normal dan kembali masuk sekolah. Mulai dari pengumuman-pengumuman resmi dari pemerintah, tanggapan tokoh-tokoh publik baik yang pro maupun kontra, respon masyarakat dari berbagai lapisan, mayoritas membahas terkait opini The New Normal.  Idulfitri saat ini, benar-benar istimewa.

Asal Mula Mudik di Indonesia

Tradisi mudik sudah ada di Indonesia sejak jaman Majapahit, bahkan sebelumnya. Mudik pada jaman dahulu diartikan ‘mulik dilik’ (pulang sebentar, Bahasa Jawa). Para perantau pada masa itu pulang sebentar ke kampung halaman untuk mengunjungi dan membersihkan makam leluhur mereka, serta berdo’a minta keselamatan dalam mencari rezeki. Mudik pada masa itu, tidak ada kaitannya dengan Idulfitri.

Mudik, Tradisi Saat Idulfitri

Idulfitri di Indonesia identik dengan mudik. Seolah tidak afdhal bila ada keluarga yang tetap di perantauan pada saat Idulfitri. Sebagaimana pernyataan mayoritas orang Indonesia, belum makan bila belum makan nasi, demikian halnya dengan mudik, belum merayakan Idulfitri bila tidak mudik.

Tradisi mudik Idulfitri di Indonesia mulai marak sejak tahun 1970 an, disaat perkembangan Jakarta sebagai Ibukota negara semakin pesat. Banyak perantauan dari daerah (udik) yang mengadu peruntungan ke Jakarta. Para perantau ini, mencari kesempatan untuk bertemu keluarga di saat libur cukup panjang dan keluarga berkumpul. Moment itu dijumpai pada saat Idulfitri. Kata mudik pun mengalami pergeseran makna. Tidak lagi bermakna ‘mulih dilik’, tapi ‘menuju udik/kampung halaman’.

Ritual mudik, cukup menyita perhatian kaum muslimin, sampai-sampai ‘mengkaburkan syariat ibadah di bulan Ramadhan’, terutama di penghujungnya. Sejak awal bulan Ramadhan (bahkan beberapa bulan sebelumnya), kaum muslimin sudah bersiap-siap untuk mudik. Mulai dari pesan tiket bagi yang tidak punya kendaraan pribadi, merencanakan acara saat di kampung, membeli asesoris dan sebagainya.

Bukan hanya individu dan masyarakat yang menjadikan mudik ini sebagai ‘bagian penting’ dalam merayakan Idulfitri. Kebijakan pemerintahpun dibuat untuk memenuhi kebutuhan mudik. Baik dari aspek ekonomi, transportasi, pendidikan, kebudayaan dan politik. Pembangunan sarana transportasi digeber, tempat-tempat pariwisata didandani, cuti bersama ditetapkan, dan banyak lagi kebijakan yang dibuat khusus untuk mendukung suksesnya agenda mudik Idulfitri.

Makna Mudik Idulfitri

Terlepas dari pro kontra tradisi mudik Idulfitri, masyarakat Indonesia memaknai mudik Idulfitri antara lain :

  1. Sebagai bagian dari ritual keagamaan. Setelah shoum Ramadhan selama sebulan, kaum muslim meyakini bahwa dosanya kepada Allah SWT diampuni. Namun, dosa/ kesalahan kepada sesama manusia baru bisa diampuni setelah saling mema’afkan. Karena itu, saat Idulfitri mereka mengupayakan untuk bertemu dengan sebanyak mungkin kerabat dan kenalan, kemudian bersalaman dan saling mema’afkan.
  2. Sebagai bagian dari birrul walidain. Sungkeman kepada kedua orangtua yang masih hidup atau ziarah kubur bila salah satu atau kedua orangtuanya sudah tiada. Sebagian masyarakat Indonesia masih meyakini, do’a yang dipanjatkan untuk kedua orangtua kurang afdhal bila tidak disertai dengan ziarah kubur pada bulan Ramadhan/ Syawwal.
  3. Tahaduts bin ni’mah. Para pemudik ingin menunjukkan keberhasilannya selama di perantauan dan berbagi di hari Idulfitri.
  4. Agenda kebersamaan keluarga. Di hari-hari biasa, masing-masing anggota keluarga sibuk dengan ‘dunianya’. Pada saat mudik Idulfitri, adalah saat yang tepat untuk berkumpul dan beraktivitas bersama.

Ketika Allah Mengutus Covid-19 turun ke Bumi

          Seperti yang kita ketahui, Covid-19 perlahan namun pasti menjalankan tugasnya untuk mengelilingi bumi. Tak terkecuali, negeri kita tercinta Indonesia pun disambangi. Rencana-rencana yang sudah tersusun rapi, satu persatu berguguran. Rencana untuk mengadakan Isra’ Mi’raj, rela atau tidak rela harus dibatalkan. Berharap Tarhib Ramadhan bisa diadakan, ternyata situasi belum memungkinkan. Harapan bisa menikmati suasana Ramadhan dalam kondisi normalpun berlalu sudah. Hingga, rencana mudik Idulfitri kandas tak berbekas.

Hikmah dibalik tak bisa mudik

Selalu ada hikmah di setiap taqdir yang telah digariskanNya. Sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah SAW :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Menakjubkan sekali urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan hal ini tidak terjadi kecuali pada seorang beriman, jika ia tertimpa sesuatu yang menyenangkan, maka ia bersyukur, maka hal ini terbaik baginya, dan jika ia tertimba sesuatu yang menyulitkan, maka ia bersabar,maka hal ini terbaik baginya (H.R. Muslim, no. 2999).

Sikap terbaik kita saat tidak bisa mudik karena wabah covid-19 adalah dengan bersabar. Sabar dengan berbagai dimensinya, antara lain terwujud dengan :

  1. Mengucapkan kalimat istirja’ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

dan memahami maknanya. Sesungguhnya, kita berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya. Demikian pula setiap makhluk dan nikmat yang dilimpahkan Allah dimuka bumi ini, pada saat Dia berkehendak memanggil, pasti akan kembali kepadaNya. Dengan pemahaman seperti ini, setiap ada nikmat yang diambil oleh Allah, tidak akan membuat kita sedih berkepanjangan. Masih banyak nikmat lain yang bisa kita syukuri.

  1. Saat nikmat dicabut, adalah saat yang tepat untuk merenung. Bisa jadi, nikmat yang kita dapatkan selama ini membuat kita terlena. Kita teliti kembali, niat mudik kita dan caranya. Apakah sudah benar-benar ikhlas karena Allah dan tetap berada dalam koridornya, ataukah sudah mulai bergeser dan mengarah ke hal yang sia-sia. Apakah niat mudik kita karena birrul walidain dan menjalin silaturrahmi, ataukah sekedar pamer keberhasilan dan jalan-jalan (semoga tidak). Selama perjalanan, apakah kita tetap menjalankan ibadah dengan optimal, ataukah sekedar penggugur kewajiban. Dan masih banyak lagi yang bisa kita renungkan.
  2. Memilih aktivitas terbaik. Pada saat mudik Idulfitri, aktivitas kita biasanya antara lain : membersamai kedua orangtua (apabila masih hidup), ziarah ke makam keluarga, silaturrahim, berbagi rezeki dan beberapa aktivitas tambahan lainnya. Karena tidak bisa kemana-mana, kita bisa mengisi hari-hari kita seperti saat Bulan Ramadhan (berdakwah, tadarrus, mengkaji ilmu, shoum Sunnah, sholat Sunnah dll).
  3. Merencanakan hari esok dengan sebaik-baiknya. Mempersiapkan bekal untuk mudik yang sebenarnya, yang sudah pasti akan kita jalani, meskipun belum tahu kapan waktunya. Mudik ke kampung akhirat, tentu lebih layak kita persiapkan daripada mudik ke kampung halaman. Bekal yang harus kita persiapkan pun sudah jelas, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

…Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa. Bertaqwalah, wahai ulil albab (QS Al Baqarah 197)

Khatimah

Idulfitri tak akan kehilangan maknanya bila kita tidak mudik. Saat ini, sarana komunikasi berkembang cukup pesat. Ucapan selamat tidak harus kita sampaikan dengan bertemu muka di dunia nyata (jumpa darat). Kita bisa menyapa kerabat dan sahabat kita melalui dunia maya (komunikasi via udara). Dari sisi waktu, tenaga dan biaya lebih ringan, dari jangkauan lebih luas. Lihatlah, betapa banyak beranda medsos yang memposting pertemuan antar kota, antar negara bahkan antar benua pada Idulfitri tahun ini. Do’a terbaik seorang muslim untuk saudaranya adalah do’a yang dipanjatkan tanpa sepengetahuannya.

Di lain sisi, pembengkakan pengeluaran Idulfitri tidak terjadi. Untuk yang masih mendapatkan nikmat THR, dananya bisa dialokasikan untuk infak, sedekah maupun wakaf. In Syaa Allah, pahala mengalir tanpa terasa.

Semoga sabar dan syukur senantiasa mewarnai kehidupan kita. Sehingga, bahagia selalu hadir menyapa, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Karena bahagia itu bukan pada banyaknya nikmat yang kita punya. Kebahagiaan sejati bagi seorang mukmin adalah pada saat dia berusaha menggapai ridhoNya.

 

Wallahu a’lam

Bogor, 7 Syawwal 1441 H

[Ditulis Oleh Ustazah Ariani Mufida – Kepala Sekolah STP Khoiru Ummah SD Bogor Barat]