Hagia Sophia, Saksi Kejayaan Islam pada Masa Kekhalifaan Ottoman

Siapa yang tidak kenal Hagia Sophia?

Bangunan berusia 1500 tahun itu menjadi saksi sejarah yang berubah seiring perkembangan zaman. Hagia Sophia atau Aya Sofia dikenal sebagai simbol kekhasan Turki.

Awalnya, Hagia Sophia atau dalam bahasa Turki disebut Ayasofya awalnya dibangun sebagai basilika Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun pada masa Kaisar Bizantium Constantinus, Hagia Sophia pada 360 Masehi dibangun sebagai gereja Ortodoks. Selama beberapa abad, bangunan ini digunakan sebagai gereja dan katedral. Gempa bumi pada tahun 1344 menghancurkan struktur bangunannya.

Pada tahun 1453 masa Kekaisaran Bizantium berakhir setelah Konstantinopel ditaklukkan oleh Khilafah Utsmani di bawah pimpinan Sultan Mehmed II. Selain berhasil menaklukkan Konstantinopel, Sultan Mehmed II atau Muhammad Al Fatih mengubah status Hagia Sophia menjadi masjid.

Saat itu, berbagai ornamen keagamaan Kristen ditutupi dan ditambahkan dengan kaligrafi-kaligrafi besar dari seniman ternama pada masa itu, Kazasker Mustafa Izzet. Bangunan Hagia Sophia direnovasi kembali dan ditambahkan dengan mihrab dan empat menara besar di luar bangunan. Ukuran kubah Hagia Sophia begitu besar dan tinggi. Ketika memasuki area bangunan, kita akan dibuai oleh keindahan interior yang dihiasi mosaik dan fresko. Tiang-tiangnya terbuat dari pualam warna-warni. Sementara dindingnya dihiasi beraneka ragam ukiran.

Ketika Hagia Sophia dialihfungsikan menjadi masjid pada 1453, bentuk arsitekturnya tidak dibongkar. Kubah Hagia Sophia yang menjulang ke atas dari masa Bizantium ini tetap dibiarkan, tetapi penampilan bentuk luar bangunannya kemudian dilengkapi dengan empat buah menara. Empat menara ini antara lain dibangun pada masa Al-Fatih, yakni sebuah menara di bagian selatan. Pada masa Sultan Salim II, dibangun lagi sebuah menara di bagian timur laut. Dan pada masa Sultan Murad III, dibangun dua buah menara.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Termasuk, mengganti tanda salib yang terletak di puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan asli yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain yang dianggap tidak perlu, tak luput dihilangkan. Begitu pula patung-patung yang ada dan lukisan-lukisannya dilucuti atau ditutupi cat.

MaasyaAllah, ingat Hagia Sophia jadi kembali mengingat penaklukan Konstantinopel yang bersejarah itu ya? Jadi, siapa yang masih ingat kisa penaklukan Konstantinopel yang dilakukan oleh Muhammad Al Fatih? Ananda shalih dan shalihah boleh berbagi kisahnya di kolom komentar ya!