Cappadocia, Lebih Dari Sekedar Drama

Cappadocia Lebih Dari Sekedar Drama

Jika hari ini kita mengenal nama Cappadocia karena drama, namun ketahuilah bahwa Cappadocia lebih dari sekedar drama.

Cappadocia terletak sekitar 200 mil di selatan Ankara ibukota Turki, serta di antara Gunung Taurus dan Laut Hitam. Berdasarkan informasi yang dilansir dari turkeytourism.com, kawasan Cappadocia terbentuk sekitar 2 miliar tahun yang lalu dari letusan gunung berapi. Bekas letusan itu membentuk dataran besar dari lava vulkanik yang menutupi lembah pegunungan. Kemudian, sungai-sungai yang meluap pun membanjiri lereng bukit dan angin kencang mengikis formasi geologis batuan. Proses inilah yang akhirnya membuat Cappadocia menjadi sangat unik dan indah. Wilayah Cappadocia berupa lembah, ngarai, dan formasi bebatuan yang terbentuk akibat hujan dan angin yang mengikis permukaannya selama ribuan tahun.

Bebatuan di Cappadocia sangat lunak, sehingga dapat dengan mudah dikeruk bagian dalamnya. Jadi, interior Cappadocia sangat memungkinkan dibentuk berbagai macam perabot, semisal jendela, kamar tidur, dapur, dan beberapa ruang yang dihubungkan oleh tangga. Jalur dan struktur yang diukir pada batu memiliki sejarah panjang perjuangan dan perlawanan. Pada awal abad ke-3, gua-gua dan terowongan-terowongan di dalam formasi batuan digunakan sebagai tempat persembunyian oleh orang-orang Kristen, yang lolos dari penganiayaan kekaisaran Romawi.

Keindahan Cappadocia tak berhenti pada kelok-kelok tebing dan perbukitan, namun hingga ke perut bumi. Di bawah Cappadocia yang anggun terdapat kota Derinkuyu dan Kaymakli. Ketika daerah itu diserang, para keluarga akan melarikan diri ke ruang bawah tanah mereka, bergegas melalui terowongan gelap dan berkumpul di kota bawah tanah.

Pada abad ke-5 sebelum Masehi Cappadocia dikuasai oleh Bizantium atau Kekaisaran Romawi Timur. Selama beberapa abad wilayah ini berada di bawah kekuasaan Bizantium. Namun kekuasaan Kekaisaran Bizantium di Cappadocia berakhir setelah mengalami kekalahan dari Bani Saljuk dalam Pertempuran Manzikert pada 1071 M. Bahkan momen kemenangan ini dirayakan setiap tahunnya oleh dunia Islam. Pertempuran Manzikert sejarah besar Bani Saljuk di bawah pimpinan Sultan Muhammad Alp Arslan (1029-1072) yang berhasil mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur di bawah pimpinan Kaisar Romanos IV pada 1071 M (463 M).

Kisah heroik dan menegangkan terjadi pada pertempuran ini. Sebab pada awal pertempuran Sultan Alp Arslan sempat merasa gelisah karena Saljuk akan melawan Bizantium dengan kekuatan dan persiapan minimalis. Hal ini disebabkan segala persiapan sebelumnya yang telah disusun selama ini hanya untuk menghadapi Bani Fathimiyah, bukan yang lain. Sehingga untuk pertempuran Manzikert pasukan dan persiapan lainnya tidak optimal. Namun tidak ada gunanya menyesal. Kini, pilihan satu-satunya ialah maju. Guru Alp Arslan, Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik al-Bukhari al-Hanafi, menyampaikan nasihat penenang hati. “Sungguh, Anda berjihad untuk membela agama Allah. Dan Dia telah berjanji menolong agama-Nya dan akan memenangkan agama-Nya. Semoga Allah memenangkan pasukan Islam dalam pertempuran ini dengan perantaraanmu,”

Saat shalat Jumat, Alp Arslan bermunajat sambil menangis begitu pun seluruh pasukannya. Mereka benar-benar berupaya mendekatkan diri dan menyerahkan segalanya kepada Allah Ta’ala. Sampai akhirnya pertempuran tiba dan Romanus terkepung. Pertempuran di Manzikert ini akhirnya dimenangkan kaum Muslimin. Romanus meminta Alp Arslan bersedia menerima tebusan untuk keselamatan dirinya. Sultan Bani Saljuk itu menyanggupi permintaan tersebut, dengan memenuhi tiga syarat. Pertama, semua tawanan yang Muslim di Bizantium harus dibebaskan. Kedua, Kaisar harus sanggup mengirimkan pasukan kepada Seljuk, kapan saja sang sultan menginginkannya. Ketiga, uang tebusan sang raja Romawi ialah sebesar 150 ribu dinar. Semua persyaratan itu kemudian dipenuhi pihak Bizantium. Sebelum berpisah, Alp Arslan membekali Romanus dengan 1.000 dinar. Pertempuran Manzikert menjadi tanda kekaisaran Bizantium kehilangan kendali atas kawasan Cappadocia akibat kalah dari Bani Saljuk. Dengan demikian, periode kristen di Cappadocia berakhir.

Dari kisah ini jelas tergambar sejarah Islam nyata hadir di Cappadocia. Bukan sekedar tempat persembunyian orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan penguasa, namun menjadi bagian sejarah kegemilangan Islam.