Site icon Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah

Belajar dari Keteladan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as

Ananda shalih dan shalihah, apa yang antum ingat dari kisah Nabi Ibrahim as dan putra tercintanya Nabi Ismail as?

Rupanya kisah keduanya bukan sekedar kisah berisi hubungan antara ayah dan anak laki-lakinya, namun Maasya Allah banyak sekali teladan yang bisa kita ambil dari keduanya, diantara teladan dari kisah keduanya antara lain;

1. Keberanian Nabi Ibrahim as saat mengubah masyarakat dan penguasanya dari penyembahan materi, benda dan berhala-berhala kepada tauhid ilallah.

Ananda shalih dan shalihah, kalimat tauhid/kalimatul ikhlas laa ilaaha illallah artinya adalah tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Swt. Hal itu bukan hal yang mudah bagi Nabi Ibrahim As, karena ayahnya adalah seorang pembuat berhala. Namun dengan bahasa yang santun beliau menyampaikan perintah agar mengesakan Allah Swt.

Sebagaimana kisahya yang diabadikan di dalam QS Maryam ayat 41-47;

“Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”.

Namun ananda shalih dan shalihah, ajakan Nabi Ibrahim as mendapatkan penentangan yang keras hingga ia diusir oleh ayahnya. Meskipun demikian, Ibrahim as tetap berbakti pada ayahnya dengan tetap mendoakannya. Selain penolakan dari ayahnya, ia mendapatkan hukuman berupa dibakar dalam api karena menghancurkan berhala yang disembah kaumnya. Namun sungguh Maha Kuasa Allah Swt memerintahkan api yang membakar Ibrahim as agar menjadi dingin. Allahu Akbar! Mukjizat bukti betapa benar apa yang diserukannya.

2. Ketaatan Nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail as

Saat putra tercintanya Nabi Ismail as beranjak dewasa, Nabi Ibrahim as kembali diuji dengan perintah Allah Swt agar menyembelih putranya. Ismail as yang sangat dicintai dan didambakan dalam doanya: “Robbi hablii minassholihin”.

Dengan penuh kasih sayang ia berkata kepada putranya; “Wahai putaraku yang kusayangi sesungguhnya aku mendapatkan perintah melalui mimpi agar aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu? Diluar dugaan, Ismail as putra kesayangannya menjawab: “Wahai ayahku laksanakan apa yang telah diperintahkan pada engkau, semoga engkau mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” Allahu Akbar!

Kemudian Ibrahim melaksanakan penyembelihan, ketika keduanya sudah bersiap dan ketika pisau diletakkan di leher Ismail as. Allah memanggil Ibrahim as:

فلما أسلما وتله للجبين ونادينه ان يا إ براهيم قد صد قت  الرؤى إنا كذلك نجزي المحسنين إن هذا لهوالبلاؤ المبين وفديناه بذبح عظيم وتركنا عليه في الأخرين سلام علي إبرا هيم كذ لك نجزي المحسنين

“Wahai Ibrahim engkau telah membenarkan perintah-Ku melalui mimpimu. Sesungguhnya dengan demikian akan membalas orang-orang yang berbuat baik, sesunggguhnya ini adalah ujian yang nyata dan kami tebus Ismail dengan sembelihan hewan kurban yang besar. Dan kami jadikan teladan untuk orang-orang yang sesudahnya, keselamatan untuk Nabi Ibrahim, demikianlah kami membalas orang-orang yang berbuat baik.” (QS. As-shaffat ayat 103-110)

Ananda shalih dan shalihah, sesungguhnya masih banyak teladan yang bisa kita ambil dari kisah keduanya. Namun dari dua kisah di atas saja, betapa hebatnya nilai teladan yang bisa kita jadikan contoh dan kita amalkan. Yuk, kerahkan seluruh daya dan upaya kita dalam meneladani keduanya!