“Apakah Pendidikan Seksualitas (Tarbiyah Jinsiyyah) Hal Baru dan Tabu dalam Islam?”

Ayah dan Bunda, tantangan dalam mendidik dan mengasuh anak hari ini makin berat di tengah gempuran gaya hidup serba bebas. Beragam bentuk pemikiran bebas yang berimbas pada penyimpangan perilaku anak-anak membutuhkan ekstra perhatian dan tenaga kita. Beberapa diantaranya yang cukup memilukan adalah perilaku seks bebas hingga suka sejenis. Salah satu langkah yang konon ditempuh untuk mencegah hal tersebut adalah dengan mengajarkan pendidikan seksual.

Namun, apakah langkah ini efektif? Lalu apa bedanya dengan tarbiyyah jinsiyyah atau pendidikan seksualitas? Apakah hal ini baru dan tabu dalam Islam? Untuk itu mari kita bedah bersama.

Ayah dan Bunda, sebelumnya mari kita awali dengan pengertian dari pendidikan seksual yang merupakan kegiatan untuk mengajarkan seputar kesehatan reproduksi. Tujuannya sendiri adalah untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual maupun penyakit menular dapat dicegah.

Berbeda halnya dengan pendidikan seksual, Islam lebih dahulu mengajarkan tarbiyyah jinsiyyah atau pendidikan seksualitas. Tarbiyyah jinsiyyah sendiri berangkat dari fitrah seksualitas yang merupakan fitrah ciptaan Allah Swt dalam diri setiap manusia. Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan seksualitas atau tarbiyyah jinsiyyah jelas sangat berbeda dengan pendidikan seksual yang hanya mengajarkan kesehatan reproduksi semata.

Dalam proses tarbiyyah jinsiyyah ini sangat diperlukan kehadiran serta kedekatan Ayah dan Bunda. Diperlukan kedekatan yang berbeda dalam setiap tahapan usia agar fitrah seksualitasnya tumbuh paripurna. Saat usia 0-2 tahun anak-anak didekatkan pada ibunya, selepasnya di usia 3-6 tahun anak laki-laki dan perempuan harus dekat dengan ayah dan ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional. Apalagi anak-anak harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun. Kedekatan paralel ini mampu membuat anak membedakan sosok laki-laki dan perempuam, sehingga secara alami mampu menempatkan diri baik cara bicara, bersikap, berpakaian, merasa, berpikir dan lainnya. Jika tidak jelas identitas di usia tersebut akibat ketiadaan peran ayah dan ibu dalam mendidik maka potensi awal penyimpangan seksual telah muncul.

Ketika menjelang baligh yang dimulai sejak usia tamyiz (7-10 tahun) anak-anak diajarkan beberapa adab agar mampu menjaga diri dari penyimpangan seksual. Antara lain;

1. Adab meminta izin
Dengan membiasakan anak agar selalu meminta izin ketika memasuki kamar orangtua pada waktu-waktu khusus seperti; sebelum subuh, tengh hari dan setelah shalat isya

2. Adab melihat
Hal ini sangat penting untuk diajarkan agar anak mengetahui mana yang halal untuk dilihat dan mana yang haram. Sebab dalam pandangan itu terdapat kebaikan untuk dirinya dan keistiqamahan akhlaknya saat mencapai usia baligh.

3. Menjauhkan anak dari perkara yang mampu membangkitkan hasrat seksual

4. Mengajarkan hukum syara yang berhubungan dengan usia baligh.
Contohnya seperti; fikih terkait mandi, mimpi, haid dan lainnya.

5. Menjaga kesucian diri

Dengan demikian ayah dan bunda, tarbiyyah jinsiyyah dalam Islam bukanlah hal yang baru dan tabu dalam Islam. Tarbiyyah jinsiyyah juga amat berbeda dengan pendidikan seksual yang viral. Maasya Allah begitu lengkapnya panduan mendidik anak yang telah Islam ajarkan, semoga Allah mampukan kita mendidik anak-anak hingga kelak tumbuh menjadi generasi yang pandai menjaga kehormatan dan kemuliaan. Aamiin.