Mengenal Metode Dakwah Sunan Ampel ‘Moh Limo’

Ananda shalih dan shalihah, apakah antum pernah mendengar metode dakwah Moh Limo yang dilakukan untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa? Metode dakwah ini bukan metode dakwah biasa lho! Karena hasilnya luar biasa. Siapa kah pencetus metode dakwah ini? Yuk kita simak kisahnya berikut ini!

Sebelumnya mari kita mengenal sosok Raden Mohammad Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) atau Sunan Ampel terlebih dahulu. Beliau adalah salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Jawa Timur. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 di Champa (sebuah negeri kecil di Kamboja). Ayahnya bernama Maulana Malik Ibrahim atau Malik Maghribi atau Ibrahim as Samarkandi atau yang lebih kita kenal sebagai Sunan Gresik. Sementara ibunya merupakan putri Kerajaan Champa (Kamboja) yang bernama Dewi Candrawulan.

Sunan Ampel tiba di Pulau Jawa pada tahun 1443 bersama saudaranya, kemudian beliau tinggal di Tuban Jawa Timur. Setelah itu ia mengunjungi bibinya, Dewi Sasmitaputri yang tinggal di Kerajaan Majapahit. Saat itu kondisi Majapahit sedang carut marut karena para adipati dan petinggi kerajaan lupa akan tugasnya sebagai pemimpin. Mereka lebih senang berpesta dan berfoya-foya. Alhasil masyarakat mengalami kemunduran. Raja Brawijaya meminta bantuan Sunan Ampel untuk memperbaiki keadaan negerinya, hingga akhirnya Sunan Ampel dikenal sebagai sosok yang memiliki pengaruh di kerajaan Majapahit. Pengaruhnya ini disebabkan dakwah yang dilakukannya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Bahkan ia mampu mendidik para bangsawan serta adipati untuk kembali ke jalan yang benar.

Metode dakwah yang dilakukan Sunan Ampel kepada asyarakat ini diberi nama Moh Limo yang berasal dari bahasa jawa yang artinya tidak mengerjakan lima hal tercela, diantaranya:

1. moh main yang artinya tidak bermain judi, seperti mempertaruhkan uang atau lainnya yang saling merugikan.
2. moh ngombe artinya tidak minum minuman yang memabukkan seperti arak (khamr). Tujuannya antara lain hifdzu aql (menjaga akal) yang harus dijaga agar tetap sehat dan sadar.
3. moh maling artinya tidak mencuri barang orang lain yang bukan haknya. Harta adalah titipan Allah Swt, namun jangan sampai harta milik orang laindiambil tanpa izin.
4. moh madat artinya tidak menggunakan candu (narkoba). Menjalankan syariat adalah hifdzun nafs (menjaga jiwa), yang hukumnya wajib. Maka menyakiti tubuh kita dengan candu yang merusak tubuh hukumnya haram.
5. moh madon artinya tidak berzina. Karena perbuatan zina ini dilarang oleh Allah Swt, merusak nasab dan mengakibatkan kerusakan lainnya di masyarakat.

Setelah menyelesaikan tugasnya, Sunan Ampel kembali melanjutkan dakwahnya. Di wilayah Ampel beliau mendirikan masjid yaitu Masjid Sunan Ampel. Selain itu beliau mendirikan sarana pendidikan untuk menunjang internalisasi ajaran dan nilai-nilai keislaman, menggantikan keyakinan lama. Kemudian masjid dan sarana pendidikan yang didirikan ini berhasil menarik simpati masyarakat dan menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh. Hingga kini Masjid Ampel masih berdiri tegak dan menjadi bukti sejarah penyebaran Islam yang dilakukan di Jawa. Maasya Allah!