Valentine day is not for Moslems

Ananda shalih dan shalihah, setiap tahun dalam satu hari di bulan Februari beberapa kalangan muda merayakan hari kasih sayang. Dalam peringatan momen ini, mereka yang merayakan saling bertukar hadiah dan hal ini menjadi hal yang lumrah. Mulai dari bunga, coklat, boneka dan lainnys. Bahkan bukan hanya itu, melakukan maksiat pun sering kali dilakukan dengan alasan sebagai bentuk hadiah. Naudzubillahi min dzaalik.
Bagaimana sejarah terjadinya hari kasih sayang ini?
Rupanya sejarah bermula pada masa Kekaisaran Romawi. Bahkan sejumlah sejarawan mengatakan, Valentine Days/hari kasih sayang ini berasal dari kisah seorang pemuka Kristen yang bernama Saint (Santo) Valentine. Saint/santo ini adalah orang yang dianggap suci oleh kalangan Kristen yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani.
Kidah legenda tersebut menyatakan bahwa Santo Valentine merupakan seorang pendeta yang menentang kaisar. Karena dia telah menikahkan pemuda dengan seorang gadis, padahal saat itu Kaisar Claudius II melarang adanya pernikahan.
Saat itu, alasan para pemuda dilarang menikah karena Roma tengah dalam masa peperangan. Karena hal itu, dia dihukum mati. Dia meninggal pada 14 Februari 269 M, hari saat dia menyerahkan ucapan cinta.
Akhirnya, tanggal tersebut kerap diperingati sebagai tanggal saling tukar pesan kasih dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih.
Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai muslim?
Ananda shalih dan shalihah, kasih sayang adalah fitrah yang diberikan oleh Allah Swt kepada manusia. Namun pemenuhannya tidak bisa asal-asalan sekedar ikut apa yang ramai dilakukan di luaran, seperti misalnya pacaran, friends with benefit, atau yang lainnya. Dalam memenuhi fitrah berkasih sayang ini kita diingatkan pesan cinta dari manusia mulia pilihan Rabb Semesta Alam. Pesan ini berisi cara yang benar dalam mengekspresikan fitrah berkasih sayang.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ
“Siapa yang cintanya karena Allah, bencinya karena Allah, memberinya karena Allah dan tidak memberi pun karena Allah, maka sungguh telah sempurna keimanannya.” (HR. Abu Dawud 4.681)
Dalam hadis lainnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Sekuat-kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Thabrani)
Asy-Syaikh Abdul Qadir Al-Munawwir dalam kitab al Jami’ al Kabir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan mencintai karena Allah, membenci karena Allah artinya mencintai seseorang karena ketaatan dia kepada Allah, karena agama Islam. Maasya Allah!
Ananda shalih dan shalihah, mari kita ekspresikan rasa cinta kita dengan mengikuti apa yang dicontohkan oleh diperintahkan oleh Allah Swt dan Nabi Saw. Bukan sekedar ikut-ikutan meramaikan tradisi yang bukan berasal dari Islam.