Mush’ab bin Umair: Akidah yang Tak Tergoyah

Mush’ab bin Umair: Akidah yang Tidak Tergoyah

Di hari jum’at yang penuh berkah ini, mari kita teladani kisah penuh hikmah dari salah seorang sahabat Nabi Saw. Bukan sekedar sahabat namun di usianya yang masih sangat muda, keteguhan imanannya sungguh luar biasa.

Dialah Mush’ab bin Umair, nama lengkapnya Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi. Mush’ab dilahirkan kurang lebih 14 tahun setelah Nabi lahir. Keluarganya adalah keluarga kaya dan terpandang di Mekah, sehingga menjadikan Mush’ab muda sebagai seorang pemuda yang masyhur akan penampilannya.

Bahkan Rasulullah Saw pernah bersabda:

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Makkah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim)

Saat Islam tersiar di kalangan masyarakat Quraisy dan Rasulullah Saw mendakwahkan Islam di rumah Arqam bin Abil Arqam, kabar ini sampai kepada Mush’ab bin Umair. Sejak saat itu Mush’ab rajin menghadiri majelis ini, Mush’ab selalu terpesona oleh ayat-ayat Al Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah Saw. Namun rupanya hal ini sampai ke telinga ibunya, Khunas binti Malik.

Ibu Mush’ab dikenal sebagai wanita yang kuat kepribadiannya dan tidak bisa ditawar. Masyarakat Makkah pun sangat segan dengannya bahkan juga ditakuti. Hal inilah yang di khawatirkan Mush’ab mengenai keislamanya. Ketika pulang ke rumahnya, Mush’ab disambut oleh orang tuanya dan beberapa petinggi Quraisy. Ibunya sangat marah dan kecewa. Namun Mush’ab tetap membacakan ayat-ayat Allah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. Ibunya sampai mengancam tidak akan makan dan minum jika Mush’ab tetap dengan keislmanannya, namun ancaman tersebut tidak membuat imannya goyah sedikit pun.

Melihat ancaman tidak membuahkan hasil, kemudian ibunya menyeret Mush’ab dan menyekapnya di sebuah ruangan di rumahnya. Namun Mush’ab tetap tidak menyerah. Ketika kabar kaum muslimin bersiap akan berhijrah ke Habsyah, dia kemudian bersiasat dan berhasil keluar dari sekapan dengan mengelabuhi penjaga dan ibunya. AKhirnya Mush’ab bin Umair ikut hijrah ke Habasyah. Sejak itulah ia selalu mengikuti Rasulullah Saw dan menaatinya.

Kondisi Mush’ab saat bersama ibunya dan mengikuti Rasulullah Saw sangat jauh berbeda. Mush’ab bahkan pernah dilihat hanya mengenakan kain yang usang dan penuh tambalan, padahal dulunya Mush’ab adalah orang yang selalu rapi dan memakai pakaian terbaik di Makkah. Mush’ab meninggalkan itu semua demi kecintaannya kepada Allah dan Rasulnya. Rasulullah Saw memandang Mush’ab dengan penuh arti dan disertai dengan rasa syukur dan cinta. Bahkan Rasulullah Saw meneteskan air mata melihat keadaan Mush’ab.

Kesetiaan Mush’ab pada Islam juga ditunjukkan ketika perang Uhud. Dia mendapat tugas membawa bendera perang pada kala itu. Suasana saat itu kacau karena tentara Muslim mengabaikan perintah Rasulullah Saw. Namun Mush’ab mengacungkan benderanya dan bertakbir dengan kencang lalu menorobos barisan musuh. Hal ini ia lakukan agar musuh fokus pada dia sehingga tidak menghiraukan Rasul Saw. Hingga akhirnya Mush’ab bin Umair gugur sebagai syuhada perang Uhud dengan kondisi kedua tangannya tertebas pedang musuh. Selesai pertempuran, Rasulullah Saw meninjau medan perang. Ketika sampai pada jasad Mush’ab bin Umair, bercucuran deras air mata Rasulullah.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!” Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Inilah kisah Mush’ab bin Umair yang akidahnya kuat tidak pernah goyah. Semoga kita bisa meneladani kisahnya dan mengamalkan apa yang Mush’ab lakukan.