Pandemi dan Kembalinya Peran Pendidikan Kepada Orang Tua

Pandemi dan Kembalinya Peran Pendidikan Kepada Orang Tua.

Resah, gelisah, merasa sulit terhimpit kita alami bersama selama pandemi ini. Harapan seolah pupus ketika berusaha agar bisa kembali hidup normal seperti sedia kala. Namun, rupanya kita lupa dengan resep hidup yang telah diajarkan oleh baginda Nabi Saw agar hidup dengan penuh kebahagiaan dan selalu ada dalam lindungan Allah Swt.

Dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Ujian pandemi yang kita hadapi ini, sejatinya memberikan kita beberapa hikmah:
1. Pandemi ini adalah qadha/ketetapan Allah Swt untuk seluruh manusia, apalagi yang beriman. Hadapi dengan sabar dan penuh keridhoan, terutama ridho dengan qadha Allah Swt.

2. Pandemi ini adalah ujian yang diberikan Allah Swt untuk semua manusia. Siapa yang menghadapinya dengan sikap sabar, insya Allah akan naik derajatnya.

3. Pandemi ini menjadi sebuah media pendidikan untuk manusia. Begitupun dengan perannya sebagai orang tua yang bertanggung jawab dengan pendidikan anak di rumah. Pendidikan di rumah sendiri bukan hal yg baru, namun semakin meneguhkan bahwa pendidikan utama memang berada di tangan orangtua. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw “Seorang bayi dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanya lah yang akan menjadikannya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”

Ayah dan Bunda, ujian hidup boleh jadi tak kunjung redup. Namun semangat untuk mendidik dan melakukan segala hal yang terbaik harus tetap terpantik, apalagi dengan semangat lillahi ta’ala. Mari teguhkan dan perkokoh semangat untuk menjalankan peran sebagai pendidik pertama dan utama anak-anak. Yassarallahu.